Paradigma Library 2.0

Mungkin masih hangat dalam ingatan kira beberapa hari yang lalu tentang perubahan standar pengelolaan perpustakaan sekarang dari Library 1.0 menjadi Library 2.0. Materi tersebut muncul dalam seminar perpustakaan digital yang diselenggarakan PUSTAKA tanggal 14 Agustus 2007 di Aula BBP2TP Cimanggu. Lalu apa sebenarnya yang dimaksudkan L 2.0 itu?

Kalau saya kutip materi seminarnya Bapak Supriyanto Deputi Bidang Pengembangan SDM Perpustakaan Nasional RI, adalah sebagai berikut dalam UU Perpustakaan No 43 tahun 2007 disebutkan penerapan Standar Nasional Pengelolaan Perpustakaan (SNperp) yang mengacu kepada 5 hal yaitu Standar koleksi perpustakaan, Standar sarana & prasarana, Standar pelayanan perpustakaan, Standar tenaga perpustakaan, Standar penyelenggaraan dan Standar pengeloaan. Snperp tersebut digunakan sebagai Standar penyelenggaraan, pengelolaan dan pengembangan perpustakaan di tanah air ini.

Lalu kalau mengacu kepada ISO 11620-1998 tentang indikator kinerja Perpustakaan (International For Standardization 1998) menjadi rujukan dalam penyusunan pedoman evaluasi kinerja perpustakaan, disebutkan ada 15 item atau indikator yang digunakan, yaitu (1) Kepuasan Pemakai, (2) Persentasi Target Populasi Yang Dicapai, (3) Kunjungan Ke Perpustakaan Per Kapita, (4) Ketersediaan Judul Dokumen, (5) Penggunaan Di Perpustakaan Per Kapita, (6) Tingkat Penggunaan Dokumen, (7) Peminjaman Per Kapita, (8) Tingkat Ketepatan Jawaban, (9) Tingkat Keberhasilan Penelusuran Melalui Katalog Judul, (10) Tingkat Keberhasilan Penelusuran Melalui Katalog Subyek, (11) Ketersediaan Fasilitas, (12) Tingkat Penggunaan Fasilitas, (13) Tingkat Keterisian Kursi, (14) Ketersediaan Sistem Otomasi dan (15) Waktu Median Dokumen.

Maka kemudian wajarlah munculnya rumus pengelolaan perpustakaan sebagai berikut

PERP. 2.0 = (KOLEKSI + ORANG + KEPERCAYAAN RADIKAL) x PARTISIPASI.

Dengan berjalannya waktu paradigma perpustakaan di Indonesia juga berubah dari Perpustakaan 1.0 disingkat L 1.0 menjadi L 2.0. Dalam sistem L.20, didorong kemampuan kompetitif pustakawan terutama dalam hal memanfaatkan potensi pasar (termasuk online). Aspek kepercayaan menjadi sangat penting dan ini mungkin menjadi aspek baru yang diperhitungkan. Sementara aspek koleksi, orang dan partisipasi merupakan aspek atau variabel yg sudah biasa dikenal dalam keseharian pustakawan.

Namun demikian variabel yg sangat menentukan adalah partisipasi karena sebagai faktor pengali. Semakin besar partisipasi aktif faktor ini akan semakin besar hasil persamaan, utk mencapai hasil yg optimum. Lalu bagaimana mewujudkan ke 4 Variabel di atas agar hasilnya menjadi optimum.

Menurut Agus M. Irkham, ciri paling jelas dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multiarah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta system kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) nan dinamis. Pada titik ini, perpustakaan generasi kedua menjadi wadah paling ideal bagi himpunan buku yang tak pernah sendiri itu. Praktik library 2.0 di Indonesia dapat ditandai dengan mulai berkembangnya software sistem otomasi perpustakaan (SOP). Baik yang bersifat gratis (open source, seperti
”Senayan” dan ”Athenaeum Light”) maupun yang berbayar.

Library 2.0 mensyaratkan adanya pustakawan yang melek teknologi, bersahabat (friendly), mau berbagi, gaul, aktif di situs jejaring sosial (facebook, friendster), mahir menulis, sekaligus narsis. Dalam logika library 2.0,
upaya ”menjual” citra diri berada dalam satu tarikan napas dengan tujuan memasarkan perpustakaan. Oleh karenanya tiap pustakawan wajib mempunyai blog/website pribadi.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan sangkaan klise: siapkah para pustakawan dan perpustakaan di Indonesia (terutama perpustakaan pemerintah) menghadapi perubahan tersebut? Menurut Irkham, daripada sibuk menjawab pertanyaan itu — yang besar kemungkinan pasti bersifat reaktif sekaligus mencari pembenaran /pemakluman — lebih baik segera insaf. Bergegas melakukan transisi kelembagaan, menyangkut sistem, keterampilan (skill) dan sikap (atitude).
Lalu bagaimana dengan perpustakaan di lingkungan kita?….. Departemen Pertanian.

Sumber :
1. Supriyanto. Perpustakaan digital : kompetensi SDM dalam pelayanan prima. Materi seminar tgl 14 Agustus 2007 di BBP2TP
2. Irkham, A.M. Library 2.0.

(Ek)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: