Pustaka dan Ulu Atu

Eka kusmayadi
pustakawan

Selintas kalau membaca judul di atas, maka kita akan bertanya apa hubungan antara ulu Atu dan Pustaka. Namun kalau anda simak cerita berikut ini, maka anda akan mendapatkan penjelasan bagaimana hubungan ulu atu dan Pustaka, Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.

Ulu atu merupakan salah satu objek studi banding Pustaka dalam rangka kegiatan temu koordinasi para pengelola perpustakaan digital lingkup Badan Litbang Kementerian Pertanian yang dilaksanakan dari tanggal 3 s/d 6 Mei 2011 di Jimbaran Bali. Namun tulisan ini tidak akan membahas tentang materi tersebut (…karena sudah banyak teman-teman menulisnya). Yang saya ingin kemukakan disini adalah “Bagaimana perpustakaan dapat melengkapi informasi sesuatu hal dengan lebih jelas dan lengkap bagi pengguna”. Ini sesuai dengan teori fungsi informasi yaitu memberikan informasi awal, menghilangkan ketidakpastian dan menjelaskan tentang sesuatu hal.

Pustaka sebagai sebuah perpustakaan khusus bidang pertanian ternyata mempunyai koleksi tentang sejarah perkembangan Bali. Koleksi tersebut disimpan di lemari kelas 9. Koleksi dengan judul “Bali, atlas kebudajaan ” ditulis oleh Goris, R dan Dronkers, P.L.. Koleksi Pustaka yang diregistrasi tahun 1958. Dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia lama, Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. Pada halaman pertama buku tersebut tertulis “koleksi Soekarno”. Buku diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sayangnya tahun penerbitannya tidak tercantum, sehingga saya tidak tahu persis tahun terbit koleksi tersebut.

Isi buku sebenarnya menarik. Bagi orang Bali generasi tua barangkali ini bisa menjadi bahan untuk bernostalgia, sedangkan bagi para kawula muda buku ini dapat menjadi bahan perbandingan dan sejarah yang perlu mereka ketahui. Banyak gambar-gambar menarik yang dapat dilihat dan dibaca. Beberapa gambar saya tunjukkan adalah sebagai berikut :

1. Ulu Atu

Menurut buku tersebut ulu atu adalah Pura di Bali jang paling selatan letaknja di djazirah Bukit (Tafelhoek). Pura itu masuk golongan sadkahyangan jang besar sekali artinja dalam agama Bali. Dahulu kala pura itu mendjadi penjungsungan “kelod” untuk keradjaan Menguwi, sebagai djuga pura Ulun Suwi di Djimbaran. Tebing ulu atu itu tingginja 100 m lebih dari muka laut.

Kalau kita lihat kedua gambar tersebut sepertinya perubahannya tidak jauh berbeda. Artinya mungkin kondisi demikian memang sengaja dipertahankan karena alasan buadaya atau agama barangkali.

Gambar 1. Foto tebing Ulu Atu dalam buku “Bali” (dari samping sebelah kiri)

Gambar 2. Foto Ulu Atu sekarang dilihat dari samping sebelah kanan

Namun dalam buku tersebut tidak diceritakan adanya satwa monyet disana. Mungkin saat itu satwa tersebut belum banyak atau malah belum ada barangkali. Banyaknya wisatawan kesana bisa saja menjadi hal yang menarik bagi satwa tersebut untuk berdatangan dari tempat lain di sekitarnya.

Gambar 3. Aksi monyet di Ulu Atu

2. Pertanian Bali

Buku tersebut juga menjelaskan bagaimana perhatian pemerintah waktu itu terhadap sektor pertanian, disebutkan bahwa “Bali ialah sebuah pulau jang kaja raja. Tanahnja subur negerinja makmur. Tidak mengherankan djika ia mendapat djulukan tanah padi. Gambar ini diperbuat dari udara. Tampak sawah berbidang-bidang dan berliku-liku dengan airnja jang tenang, hingga sajup-sajup pemandangan mata. Sekalian itu menjatakan dengan djelas giatnja petani-petani Bali mengusahakan tanah dan saluran-saluran air jang memperhubungkan sawah-sawah itu. Siapakah jang tak akan tertambat hatinja melihat keindahan alam jang sedemikian itu? Usaha ini, bukan sadja baru sekarang dilakukan, bahkan sedjak lebih dari 2000 tahun jang telah silam” (dihitung dari terbitnya buku tentunya).

Gambar di bawah merupakan pemandangan sawah. “Di bagian belakang sawah kelihatan puntjak-puntjak bahagian barat dari kumpulan gunung di Bali Tengah. Gunung jang tertinggi jaitu gunung Watu Kau atau puntjak Tabanan (2276 m.). Dilereng gunung ini terletak pura Leluhur”.

Kondisi pertanian yang bagus sudah selayaknya dapat dipertahankan oleh petani dan stackholder pertanian di Bali. Selain kondisi demikian mungkin kita juga masih ingat bagaimana bagusnya system pengairan di Bali yang dikenal dengan SUBAK. Saya berpendapat memang Bali sebenarnya mempunyai karakter tertentu yang spesifik termasuk dengan pariwisatanya. Sampai-sampai orang jepang itu lebih tahu Bali dari pada Indonesia. Dan ini juga mungkin yang menjiwai petani Bali dan Pemdanya yang sudah berhasil dengan program SIMANTRI-nya dan mendapat apresiasi dari Kepala Balitbang Pertanian.

Gambar 4. Pemandangan sawah dan foto udara persawahan Bali tempo doeloe

Gambar 5. Lumbung padi petani Bali dan hasil panen

Buku “Bali” tersebut sangat menarik dengan narasi dan gambar yang masih bagus kualitasnya walaupun hitamputih. Bagi anda yang berminat silakan datang ke Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Jl Ir H Juanda no 20 Bogor. tlp 0251-8321746

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: