Perpustakaan Al-Mannan, Perpustakaan Desa Juara 1 Tingkat Jateng yang Dikelola Ibu-ibu

Malam Kamar Tidur, Siang Ruang Referensi.

Oleh: Lis Retno W
19 Januari 2009

Wonosobo (Jawa Pos). Menumbuhkan minat baca pada anak-anak tidaklah mudah. Keberadaan televisi membuat anak-anak lebih memilih memelototi layar gelas daripada mengeja huruf-huruf dalam lembaran kertas.

Melalui perpustakaan, Desa Kebrengan berupaya menggugah semangat anak-anak dan remaja untuk gemar membaca. Kenapa anak dan remaja? “Kami berharap 5 tahun ke depan anak-anak yang gemar membaca akan memiliki pikiran maju sehingga bisa memajukan desa, “cetus Siti Kholisoh, pimpinan pengelola perpustakaan Desa Kebrengan.

Memang perpustakaan desa ini diperuntukkan bagi seluruh masyarakat tanpa pandang umur. Namun, umumnya, para orang tua yang hidup di pedesaan disibukkan bekerja di sawah atau ladang. Sehingga jarang membaca buku di perpustakaan.

Alhasil, perpustakaan yang dikelola sebagian besar kaum perempuan itu lebih banyak dikunjungi anak-anak sekolah dan remaja. Mulai anak pendidikan usia dini (PAUD) hingga pelajar SMA. Juga sebagian ibu rumah tangga yang sedang menunggu anaknya belajar di perpustakaan.

Perpustakaan Al-Mannan didirikan 3 tahun silam tepatnya 1 November 2006. Awalnya perpustakaan Masjid Al-Mannan yang dikelola Panti Asuhan Al-Mannan milik desa.

“Semula koleksi buku-buku kami hanya puluhan tidak sampai ratusan. Saya sebagai pengasuh di panti asuhan sini sekaligus mengurusi perpustakaan. Kemudian perpustakaan diambil desa untuk dikelola secara serius, “cerita sarjana agama dari Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang itu.

Koleksi buku pun bertambah. Juga sarana lainnya dilengkapi, utamanya setelah mendapatkan dana dari APBD maupun alokasi dana desa (ADD). Seperti alat permainan edukatif (APE) untuk anak-anak PAUD dan taman kanak-kanak serta 3 unit komputer. Koleksi buku pun ditambah. Di sisi lain, pengelola diikutkan pelatihan pengelolaan perpustakaan.

Menurut Siti, pemerintah desa dan kecamatan sangat mendukung perkembangan perpustakaan yang dikelolanya. Terlebih lagi tahun lalu perpustakaan tersebut menjadi juara pertama di tingkat kabupaten.

“Kami tidak menyangka bakal dapat juara 1 provinsi. Perpustakaan ini berada di desa dan cukup sederhana. Memang kami berusaha mengelolanya secara maksimal,” ujarnya seraya mengatakan bahwa hadiah lomba tingkat Jateng, selain piala, juga uang Rp 5 juta.

Koleksi buku pun semakin bertambah. Kini sudah ada sekitar 1620 eksemplar. Terdiri atas buku cerita fiksi, nonfiksi, ilmu terapan, agama, majalah dan jenis lainnya.

Untuk menambah koleksi, Siti tidak segan membawa buku-buku milik suaminya ke perpustakaan.

“Kalau suami mau baca buku harus ke perpustakaan, karena buku-buku koleksi pribadinya saya letakkan di perpustakaan, ” katanya sambil
tertawa.

Kendati koleksi bukunya masih sedikit, keberadaan perpustakaan tersebut sangat penting bagi warga setempat. Perpustakaan tak sekadar mengoleksi buku. Namun menjadi pusat kegiatan belajar.

Pengunjung tidak hanya membaca buku, tetapi di perpustakaan itu juga diadakan les komputer, matematika, dan les rebana. Ada pula ruang bermain anak yang dilengkapi alat permainan edukatif.

Pada Selasa, Rabu dan Jumat, anak-anak TK dan PAUD berkunjung ke perpustakaan untuk belajar. Sementara ibunya menunggu sambil baca-baca buku atau majalah. Uniknya, salah satu ruangan, yakni ruang referensi memiliki fungsi ganda. Siang hari, ruangan digunakan sebagai ruang referensi, malam harinya difungsikan untuk kamar tidur anak-anak panti asuhan.

Alas tidur anak-anak berupa kasur busa, siang hari diangkat disandarkan pada tembok. Sementara bantal-bantal dan selimut ditata rapi di atas lemari. Tidak terlihat jika ruangan itu kamar tidur.

Perpustakaan Al-Manan berada satu lokasi dengan Panti Asuhan Al-Mannan yang dikelola desa setempat. Hingga saat ini anggotanya mencapai 360-an orang, terbanyak anak dan remaja. Tiap hari pengunjung rata-rata 40-an anak.

“Kalau ada koleksi buku baru, pengunjung banyak, sampai 70-an anak tiap hari.”

Perpustakaan tersebut pada jam-jam istirahat sekolah diserbu siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif. Pada sore hari juga ramai pengunjung anak-anak.

Perpustakaan ini tidak pernah libur. Buka setiap hari 2 sif, pagi 08.30-12.00,
sore 13.30-17.00. Menurut pengamatan Siti, minat baca anak-anak dan remaja desa setempat cukup tinggi. Untuk itu dia sangat berharap bila ada bantuan buku menambah koleksinya.

(*/isk)
Sumber: http://www.jawapos. co.id/.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: